Ajakan naik gunung itu bisa datang dari mana saja dan kapan saja, seperti perjalananku mendaki Gunung Puntang kali ini. Saat liburan akan berakhir dua hari lagi, kang Hadiyan bersama geng KAMMI Palanya mengajak aku dan Eci untuk ikut mendaki Gunung Puntang.
Gotcha! Setelah gagal ikut pendakian Semeru bareng teh Ella, pendakian Puntang ini lumayan bisa mengobati. Puntang berlokasi di Banjaran, Bandung Jawa Barat, kami akan mendaki, mencapai Puncak Mega 2223 mdpl. 

Spesialnya perjalanan kali ini adalah, kami mencapai lokasi wisata Gunung Puntang dengan motor! Untuk saya yang di Jatinangor ini paling jauh hanya ke Cibiru, perjalanan naik motor ini memang sangat menantang apalagi tanpa sim, bandel banget yak! Sebelumnya, saya sama Eci sempet ragu dengan rencana kang Hadiyan motor-motoran ke Puntang, tetapi setelah dipikir-pikir kayaknya seru juga naik motor ketempat yang jauh.
Kami ke Puntang dengan konvoi empat motor, Eci memboncengi teh Ela, Saya dengan teh Faru, Marwan dengan kang Syihab, dan kang Hadiyan sendiri. Tiga jam pejalanan motor-motoran, badan pegel, telapak tangan aku kesemutan, dan mata sudah entah berapa kali kelilipan, akhirnya sampi juga di lokasi wisata Gunung Puntang.

Kami makan malam di warung sekitar, aku sendiri hanya makan sepotong roti dan telor ceplok seharga Rp2.500, yang lain entah kenapa makan telor ceplok-nasi seharga Rp8.000, aneh kan ya?

Setelah energi terisi, headlamp disiapkan, hydropack diisi, dan carrier siap dipakai, melekat pada punggung kami. Tidak lupa berdoa sebelum memulai pendakian, memohon kepada Allah agar perjalanan kami dipermudah, bebas dari kejahatan, dilimpahi keselamatan, dan diberikan pemandangan yang indah.

Kang Hadiyan mengatur posisi pendakian kami, kang Hadiyan-teh Ela-teh Faru-Eci-Qoonit-Marwan-kang Syihab. FYI, kang Hadiyan sebagai leader belum pernah mendaki gunung ini sebelumnya jadi resiko kami untuk nyasar cukup besar, apalagi pendakian malam. Petunjuk yang kami dapatkan dari bapak-warung adalah "ikuti tali rafia biru", Hanya bisa berdoa agar pendakian ini berjalan lancar.

Pendakian dimulai, trek awal masih landai, ilalang setinggi mata kaki dan dinding pepohonan mengapit kami di kanan dan kiri. Satu jam pertama trek masih bervariasi walaupun didominasi trek menanjak. Penyesuaian tubuh dengan kondisi penanjakan mulai berlangsung, nafas yang tidak berturan dan keringat yang mengucur deras. Trek semakin menanjak, aku yang tadinya menenteng kamera di tangan kanan harus memasukannya ke dalam carrier.

Dua jam mendaki, trek semakin ekstrim, sekitar 60 derajat. Kanan-kiri kami yang masih saja hutan, pepohonan rimbun, membuat pendakian jadi membosankan. Kalau lelah tidak bisa dihibur dengan pemandangan yang indah. Bosan dan lelah, rasanya ingin istirahat terus, terkadang suka timbul penyesalan kenapa harus berada di sini, jam segini, dan melakukan ini.

Memasuki jam keempat, pemandangan kami mulai indah. Hamparan citylight dan barisan gunung terhampar di belakang kami, kalau lelah tinggal menoleh kebelakang. sekitar pukul 12 malam, sabuk galaksi terlihat di langit selatan sudah berada di ufuk akan segera tenggelam. Rasanya ingin berhenti dan mengabadikan pemandangan malam itu, tetapi tidak enak, takut mengganggu perjalanan satu tim. Terpaksa aku tahan keinginan untuk memotret, huu :(

Setelah lima jam mendaki sampailah kami di pos tiga, kami memutuskan untuk bermalam. kang Syihab, kang Hadiyan, dan Marwan langsung mendirikan tenda, aku, Eci, teh Ela, dan teh Faru menyiapkan minuman hangat.

Setelah tenda sudah berdiri dan semua sudah menikmati minuman hangat, aku dan Eci memotret pemandangan dari pos tiga saat itu. Para ikhwan sudah siap tidur, berkemul di dalam sleeping bag beratapkan langit penuh bintang. Baru sebentar memotret, teh Ela dan teh Faru sudah menyuruh kami masuk tenda untuk tidur.

Setelah salat subuh rencananya kami akan muncak ke Puncak Mega. Di tenda aku dan Eci berselimutkan ponco yang entah kenapa ada yang basah, tidurku tidak nyenyak, sering terbangun dan menggigil. Pukul 04.00 aku bangun, Eci, teh Faru, dan teh Ela juga bangun, kami lalu membuat minuman hangat dan makan sepotong roti.

Azan terdengar mengalun pelan, kami membangunkan semuanya untuk salat Subuh berjamaah. Pagi menjelang, warna jingga mulai menghiasi langit timur, awan-awan menutupi kaki barisan gunung, sayangnya disaat pemandangan sedang indah-indahnya seperti ini tim kami belum kunjung siap juga untuk summit.

Pukul 06.00 matahari sudah terbit, kami baru memulai penanjakan kembali ke Puncak Mega. Trek menanjak curam hingga 70 derajat, berbatu-pasir,

pemandangan menuju puncak sangat indah, barisan tebing, gunung, langit biru dan matahari yang cerah membuat kami semakin bersemangat mencapai Puncak Mega.


Tiga puluh menit berselang, sampailah kami di tempat yang kami idam-idamkan semenjak malam lalu, tempat yang butuh kucuran keringat dan rasa lelah untuk mencapainya, tempat yang mengharuskan kami menggigil kedinginan sebelum sampai ke sana, dan tempat yang membuat kami berjuang mengalahkan ego masing-masing. Yak! ialah Puncak Mega! Puji syukur, Alhamdulillah, kepada Allah yang sudah mengizinkan kami berdiri di sini.






Setelah puas berfoto, memandangi pemandangan super indah, dan bersantai sambil menikmati minuman hangat kami kembali menuju camp.

Di tempat camp kami memasak ayam goreng dan nasi lalu memakannya di atas empat kertas nasi sebagai alas, lalu kami melingkar dan memakannya bersama-sama.

Perut kenyang hati senang, adalah saat yang tepat untuk kembali memulai perjalanan pulang. Tenda dibongkar, carrier di-packing ulang, dan kami siap untuk pulang. Tidak lupa berdoa kami memulai perjalanan pulang.

Trek yang terus menurun membuat jempol kakiku nyeri karena harus menahan setiap kali aku melangkah turun. Semakin lama, rasanya semakin sakit, aku jadi malas melangkah, terkadang aku duduk sebentar meratapi jempol kaki yang nyut-nyutan, tetapi kalau dipikir-pikir lebih baik meratapinya kalau sudah di bawah saja biar sekaligus. Dengan matap, sambil menahan rasa sakit aku terus melangkah, melangkah, dan melangkah, rindu sekali dengan jalan datar. Hanya bisa bersabar, berharap ini akan segera berakhir.

Suara aliran sungai mulai terdengar, itu berarti jaraknya sudah dekat dengan pos terakhir. Tidak lama kemudian, bangunan seperti saung terlihat, jalanan datar aku temui, Alhamdulillah senangnya sudah sampai di bawah kembali.

Kami lalu menuju warung, tetapi ternyata tidak ada minuman dingin, kami lalu mengubah destinasi istirahat ke Masjid Al-Abrar. Di Masjid aku langsung berwudu, membasuh muka, telapak tangan, dan kaki memang sangat menyegarkan. Aku penasaran dengan kondisi jempol kakiku yang sangat sakit, tetapi ternyata hanya merah tanpa lecet sedikit pun, memang aku yang terlalu manja, hehe.

Setelah semua sudah salat kami bersiap pulang, menuju parkiran motor. Rasanya ingin dibonceng saja, tetapi tidak mungkin, teh Faru tidak bisa mengendarai motor. Perjalanan pulang ini, kami melalui rute Majalaya-Rancaekek-Jatinangor. Aku dan teh Faru kehilangan yang lainnya saat menuju Majalaya. Hpku mati dan kami malas membongkar tas teh Faru yang ada di depan motor untuk mengambil hp dan menghubungi kang Hadiyan.

Dengan bertanya pada warga sekitar dan petunjuk marka jalan, sambil harap-harap cemas, sampai juga kami di Rancaekek. Alhamdulillah..

Perjalanan kami berakhir di Masjid MU sayang, kami berhenti di sana dan menukar barang-barang bawaan. Aku mengambil carrier-ku di Marwan dan mengembalikan carrier yang aku bawa ke kang Hadiyan.

Berakhirlah sudah petualangan gilaku kali ini ke Gunung Puntang!

Ini pertama kalinya aku motor-motoran ke tempat yang jauh, menurutku. Pertama kalinya naik gunung samapi puncak, pertama kalinya naik gunung versi islami; teh Ela dan teh Faru yang mengenakan rok dan jilbab panjang untuk mendaki, Salat yang diutamakan, Marwan dan kang Syihab yang selalu menjaga jarak di belakangku saat mendaki, dan interaksi fisik antara ikhwan dan akhwat yang berusaha diminimalisirkan.

Spesial sekali petualanganku kali ini ya! :D

Oke, sampai jumpa di petualangan selanjutnya